First Aid Conference 2026 "Complete Wound Care, Comprehensive Management of Acute Wounds and Scar Therapy"

Berita ini mengenai kegiatan seminar perawatan luka

First Aid Conference 2026 "Complete Wound Care, Comprehensive Management of Acute Wounds and Scar Therapy"
First Aid Conference 2026 "Complete Wound Care, Comprehensive Management of Acute Wounds and Scar Therapy"
First Aid Conference 2026 "Complete Wound Care, Comprehensive Management of Acute Wounds and Scar Therapy"
First Aid Conference 2026 "Complete Wound Care, Comprehensive Management of Acute Wounds and Scar Therapy"
First Aid Conference 2026 "Complete Wound Care, Comprehensive Management of Acute Wounds and Scar Therapy"
First Aid Conference 2026 "Complete Wound Care, Comprehensive Management of Acute Wounds and Scar Therapy"

Liputan Farmasi --

Jakarta, Setiap luka memiliki karakteristik dan kebutuhan perawatan yang berbeda, sehingga masyarakat perlu memahami jenis luka sebelum menentukan langkah penanganan yang tepat. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam sesi talkshow Hansaplast First Aid Conference (FAC) 2026 bertajuk "Beyond Healing: Protecting Your Healthy Lifestyle Through Smart Home Care and Smart Management". Hadir dalam memenuhi undangan tersebut , Ketua PD PAFI DKI Jakarta , Jatmiko, S.Si, M.Pharm yang juga memberikan sambutan yang membahas mengenai penting nya peran Tenaga Kefarmasian dalam pelayanan kesehatan serta penanganan untuk perawatan luka.

Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika, Dr. Pipim Septiana Bayasari, Sp.DVE, menjelaskan bahwa langkah awal dalam perawatan luka adalah memahami jenis serta kondisi luka yang dialami. "Kalau kita berbicara jenis luka, ada luka terbuka dan luka tertutup. Luka tertutup contohnya seperti memar atau hematom, sedangkan luka terbuka dapat berupa luka sayatan, luka operasi, luka lecet, luka robek, luka bakar, dan lainnya," ujar Dr. Pipim di Bengkel Space, Sabtu (19/09). Dr. Pipim menambahkan bahwa perlindungan luka juga harus mempertimbangkan kenyamanan pasien, terutama bagi masyarakat dengan aktivitas tinggi. "Pada saat melakukan perawatan luka, kita perlu melihat aspek kenyamanan pasien, perlindungan luka, dan apakah perawatan tersebut tetap memberikan kebebasan bergerak," katanya.

Selain dokter, peran apoteker juga menjadi perhatian dalam membantu masyarakat mendapatkan informasi yang tepat mengenai perawatan luka. Dr. apt. Lusy Noviani, M.M., menjelaskan bahwa masyarakat yang datang ke apotek memiliki kebutuhan berbeda-beda. Sebagian sudah mengetahui produk yang ingin digunakan, sementara sebagian lainnya membutuhkan rekomendasi berdasarkan kondisi luka. "Ada pasien yang datang dan langsung menyebut ingin menggunakan produk tertentu. Tetapi ada juga pasien yang menjelaskan kondisi lukanya dan meminta rekomendasi, misalnya setelah jatuh, terkena luka bakar, atau mengalami luka tertentu," ujar Lusy.

Hadir pula pembicara Dr. Uul Albab, Sp.OG (Subsp. Obsginsos, FISOG), menjelaskan bahwa luka operasi berbeda dengan luka akibat kejadian sehari-hari karena merupakan luka yang dibuat secara sengaja melalui tindakan medis. "Luka operasi adalah luka yang disengaja. Kita membuat sayatan mulai dari kulit, jaringan bawah kulit, hingga lapisan yang lebih dalam, sehingga proses perawatannya juga berbeda," ujar Dr. Uul. Menurutnya, perawatan luka operasi tidak hanya berfokus pada penyembuhan luka, tetapi juga bagaimana mencegah infeksi dan meminimalkan bekas luka. Ia menjelaskan bahwa terdapat beberapa tahapan penting dalam perawatan luka operasi, mulai dari perlindungan luka, menjaga kondisi sekitar luka, melakukan pemantauan, hingga memperhatikan proses pembentukan bekas luka. "Perawatan luka operasi bukan hanya tentang luka menjadi sembuh, tetapi juga bagaimana kita menjaga agar hasil akhirnya tetap baik dan bekas luka dapat diminimalkan," katanya. Dr. Uul juga mengingatkan bahwa proses penyembuhan luka operasi membutuhkan waktu dan tidak dapat dianggap selesai hanya karena pasien sudah diperbolehkan pulang.


What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow